Setelah 1,5 Tahun…

Tak terasa, hampir 1,5 tahun TK-Q Rumah Qurani berdiri… Banyak sekali pengalaman yang Bunda dapatkan… mulai dari rasa bahagia, sampai ke rasa helpless melihat situasi. Bahkan sempat dirudung rasa apatis sampai-sampai malas menulis lagi di blog ini.

Namun kini, Bunda bersemangat lagi. Selama beberapa waktu terakhir, Bunda mengikuti beberapa pelatihan dan mendapatkan pencerahan. Pernah juga Bunda yang diminta memberi pelatihan, eeh.. malah Bunda yang juga mendapat pencerahan.

Pencerahan itu antara lain datang dari salah satu pendiri sebuah sekolah bagus di Cimahi, Gemilang Mutafannin. Waktu Bunda diminta sharing metode isyarat di sana, beliau menceritakan bagaimana sulitnya merintis sekolah GM karena awalnya agak tidak sesuai dengan paradigma masyarakat tentang sekolah. Masyarakat di sana waktu itu masih belum menerima, mengapa sekolah tidak pakai seragam, tidak pakai PR, lebih banyak ‘bermain, dll. Setelah bertahun-tahun, terbukti hasil pendidikan di sana adalah anak-anak yang mandiri, aktif, cerdas, dan terasah potensinya,  barulah masyarakat ramai mendaftarkan anak ke sekolah itu.

Nah… Bunda jadi tersadarkan. Toh, Bunda baru 1,5 tahun merintis TK-Q Rumah Qurani. Sangat maklum bila tanggapan masyarakat masih minim.

Sangat bisa dimaklumi bila ada ortu yang mendaftar bertanya, “Di sini seragamnya berapa?”  Ketika dijawab “Di sini kami tidak mewajibkan pakai seragam bu..”, si ibu balik kanan dan tidak kembali lagi.

Sangat dimaklumi bila ada ortu yang memilih menarik anaknya karena tergiur TK lain yang memberikan seragam polisi ke anak-anak, diajari menghitung bersusun dan mengeja. Menurut mereka, setelah berbulan-bulan anaknya di Rumah Qurani, anak mereka “belum bisa apa-apa”. Bunda harus memaklumi bahwa mereka  memang terbiasa mendeteksi ‘bisa apa’apa’ adalah bisa menulis, membaca, dan berhitung. Bunda harus berbesar hati, memaklumi, bahwa ‘kemampuan menggambar dan bercerita, berimajinasi, menyusun cerita yang runut serta menyampaikan cerita itu kepada guru dan temannya’ itu belum dianggap ‘bisa apa-apa’ oleh sebagian ortu.

Bahwa anaknya sudah mampu berargumen dengan ayat, pun masih dianggap ‘tidak bisa apa-apa’, Bunda juga harus maklum.

Inilah dialog di kelas:

Guru: Kalau ada temannya yang jatuh, boleh diejek enggak?

Anak: engga…

Guru: mengapa?

Anak: karena nanti sedih…

Guru: betul.. terus, kata Allah apa?

Anak: kata Allah, kita ga boleh mengejek…!

Guru: betul.. ayatnya apa nak?

Anak: laa yaskhar qawmun min qawmin…

Guru: betul sekali, alhamdulillah…!

Yah, sangat wajar bila ada ortu yang belum bisa menilai bahwa dialog di atas adalah dialog yang sangat bernilai tinggi, karena paradigma mereka, dialog yang bernilai adalah “sudah berapa surah yang dihafal? sudah bisa Iqro’ belum?”

Jadi… ya sudahlah… untuk sementara memang inilah episodenya, ya kan?

Bunda akan jalan terus, berusaha memperbaiki kualitas pengajaran, berusaha mengomunikasikannya dengan baik kepada ortu tentang paradigma pendidikan yang benar, dan sisanya bertawakal kepada Allah.

Kan kata Allah… innallaaha ma’ash-shaabiriiin…

🙂

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s